Penjelasan Terkait Penyembelihan Hewan Aqiqah

Berikut ini adalah beberapa penjelasan terkait seputar penyembelihan hewan aqiqah.

A. Menyebut nama Allah dan niat sewaktu menyembelih hewan aqiqah. Penyembelihan melakukan niat (di dalam hati) seraya mengucapkan: “Bismillahi wallahu akbar, allaahumma laka wa ilaika, haadzihii ‘aqiiqatu fulaan (Dengan Nama Allah saya menyembelih ‘aqiqah, dan Allah Mahabesar. Ya Allah, ‘aqiqah ini karena-Mu dan kepada-Mu. Ini adalah ‘aqiqah si fulan).” Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Tidak disyaratkan untuk melafalkan bacaan tersebut. Ibnul Mundzir berkata, “Jika ia niat aqiqah, dan tidak mengucapkannya, maka hal itu memadai InsyaAllah.”

B. Menyembelih hewan aqiqah dilakukan lebih dahulu daripada mencukur rambut bayi. Ini pendapat yang lebih kuat. Al-Baghawi berkata, “Dianjurkan mencukur rambut kepala bayi setelah menyembelih aqiqah.” Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah mendatangkan riwayat yang lain bagi hadits yang telah lalu dari Abusy Syaikh dengan lafazh: “Kemudian disembelih (aqiqah) di hari ketujuh, kemudian dicukur rambutnya.”

C. Disunnahkan mencukur rambut bayi dan bershadaqah dengan perak seberat rambut yang dipotong dan juga melumuri kepala bayi dengan za’faran dan menamainya. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Buraidah, ia berkata, “Aku mendengar Abu Buraidah berkata, ‘Di zaman jahiliyah, jika lahir anak bagi salah seorang dari kami, maka kami menyembelih seekor kambing dan melumuri kepala bayi dengan darah kambing tersebut. Tatkala Allah ‘Azza wa Jalla mendatangkan syari’at Islam, maka kami menyembelih seekor kambing, mencukur rambut bayi dan melumuri kepalanya dengan za’faran.”

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam meng-aqiqahi Al-Hasan dengan seekor kambing. Beliau bersabda, ‘Wahai Fathimah, Cukurlah rambutnya, dan bershadaqahlah dengan perak seberat timbangan rambutnya itu.” Ali berkata, “Lalu Fathimah menimbangnya, dan ternyata beratnya satu atau setengah dirham.”

Dari hadits Samurah bin Jundab, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih hewan aqiqah pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama pada hari itu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang Qaza (mencukur sebagian rambut anak dan meninggalkan sebagiannya).

D. Dianjurkan untuk memberikan ucapan selamat atas kelahiran bayi dan membalas ucapan tersebut. Telah datang atsar dari al-Husain radhiyallahu ‘anhu tentang memberikan ucapan selamat bagi orang yang dikaruniai anak dengan mengucapkan: “Semoga Allah Ta’ala memberkahimu pada pemberian (yakni anak) ini. Semoga engkau bersyukur kepada Yang Memberikannya (yakni Allah). Semoga ia sampai kepada kedewasaannya dan semoga engkau diberi rizki berupa berbaktinya si anak (kepada-mu).”

Sumber: buku Panduan Praktis Aqiqah Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang disusun oleh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.