Syarat-Syarat Dalam Melaksanakan Aqiqah

Syarat Pertama: Hewan yang disembelih adalah kambing, domba, unta atau sapi. Maka tidak sah jika menggunakan hewan lainnya, seperti kelinci, ayam atau burung. Ini merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu dari kalangan fuqaha, ahli hadits dan yang lainnya. Hal ini dengan mengkiaskan ‘aqiqah kepada udh-hiyah (kurban), sebagaimana yang dijalankan oleh para ulama. Imam Malik berkata, “Hanya saja ia -yakni ‘aqiqah- kedudukannya sama dengan kurban.” Seperti juga yang diisyaratkan oleh an-Nawawi, Ibnu Qudamah dan selainnya.

Dinukil pula dari sekelompok Salaf mengenai bolehnya aqiqah dengan unta dan sapi. Diriwayatkan dari Qatadah, “Bahwa Anas bin Malik menyembelih unta untuk aqiqah anak-anaknya.” Diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dan para perawinya shahih. Ini dikatakan oleh al-Haitsami.

Adapun pernyataan dari Ibnu Hazm bahwa penyebutan domba atau kambing dalam hadits-hadits menunjukkan tidak bolehnya aqiqah dengan selain domba atau kambing, maka pernyataan ini tertolak, karena hadits-hadits tersebut tidak membatasi hal itu. Penyebutan domba atau kambing dalam hadits tersebut hanyalah sekedar mencontohkan. Dan juga dikarenakan domba atau kambing adalah hewan yang mudah didapat oleh kebanyakan orang, berbeda dengan unta dan sapi. Dan kebiasaan orang-orang pun lebih banyak yang menyembelih domba daripada unta dan sapi.

Syarat Kedua: Hewan selamat dari aib atau cacat. Ini pendapat mayoritas ulama. At-Tirmidzi berkata, “Ahli ilmu berkata: Aqiqah tidak memadai kecuali dengan hewan yang memadai untuk kurban.” Oleh karena itu, maka aqiqah tidak boleh dengan hewan yang pincang, yang jelas kepincangannya. Juga tidak boleh yang picek, yang jelas piceknya. Tidak boleh yang sakit, yang jelas sakitnya. Tidak boleh yang buta, tidak boleh yang pecah tanduknya dan tidak boleh yang lumpuh.

Aqiqah adalah satu bentuk pendekatan diri seorang hamba kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa, maka hendaklah ia menyembelih yang selamat dari aib dan yang gemuk, karena sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.

Syarat Ketiga: Telah sempurna umurnya, sebagaimana yang diisyaratkan pada hewan kurban. Maka tidak boleh aqiqah dengan domba kecuali telah genap satu tahun. Ibnu Qudamah berkata, “Kesimpulannya, bahwa hukum aqiqah seperti hukum kurban dalam umurnya.”

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hewan yang memadai untuk aqiqah adalah hewan yang memadai untuk kurban. Maka tidak boleh aqiqah dengan domba yang di bawah jadza (domba yang berumur satu tahun atau giginya sudah tanggal). Dan tidak boleh yang dibawah tsaniyah (kambing yang telah berumur dua tahun) untuk kambing, unta dan sapi. Inilah yang shahih (benar) dan yang masyhur dan inilah yang ditetapkan oleh mayoritas ulama.

Sumber: buku Panduan Praktis Aqiqah Berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah yang disusun oleh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *