Hukum Memberi Nama Dengan Nama Nabi

Terkait dengan hukum memberikan nama anak dengan nama-nama para nabi para ulama berbeda pendapat menjadi dua. Pertama, tidak makruh yang mana ini adalah pendapat kebanyakan ulama dan yang paling benar. Lalu pendapat yang Kedua, makruh.

Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah menuliskan tentang bab “Nama-Nama yang Dimakruhkan.” Al-Fadhl bin Dukain menceritakan kepada kami dari Abu Khaldah dari Abu Al-‘Aliyah, “Kalian melakukan perbuatan yang buruk! Kalian namai anak-anak kalian dengan nama-nama nabi lalu kalian melaknat mereka.”

Keterangan yang lebih tegas adalah seperti yang diceritakan Abul Qasim As-Suhaili dalam Ar-Raudh, beliau berkata, “Jalan yang diambil oleh Umar bin Khatab adalah memakruhkan memberi nama dengan nama-nama nabi.”

Menurut penulis, pihak yang berpendapat demikian bermaksud untuk menjaga nama-nama nabi agar tidak dicela, serta menjadi objek perkataan buruk. Terutama ketika dalam kondisi marah kepada si pemaki nama nabi tersebut. Sa’d bin Al-Musayyib berkata, “Nama yang paling aku cintai karena Allah adalah nama-nama para nabi.”

Dalam Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah disebutkan bahwa Thalhah memiliki sepuluh anak. Semuanya dinamai dengan nama nabi. Zubair juga memiliki sepuluh anak, semuanya dinamai dengan nama syuhada. Thalhah berkata kepadanya, “Aku menamai anak-anakku dengan nama-nama nabi, sedangkan engkau menamai anak-anakmu dengan nama-nama syuhada?” Zubair menjawab, “Sungguh aku berkeinginan agar anak-anakku menjadi golongan syuhada. Tentu engkau tidak berharap agar anak-anakmu menjadi nabi.”

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Musa ia berkata, “Istriku melahirkan anak, kemudian aku bawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memberinya nama Ibrahim juga men-tahnik anakku dengan kurma.”

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dalam bab “Orang-Orang yang Menamai dengan Nama-Nama Nabi.” Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Bisyir bahwa Ismail menceritakan kepada kami, ia berkata kepada Ibnu Abi Aufa, “Apa engkau melihat Ibrahim bin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Ia menjawab, “Ibrahim meninggal saat nabi masih kecil, sekiranya Allah menetapkan setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ada nabi lagi, tentu putranya itu akan hidup, akan tetapi tidak ada lagi nabi setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian beliau menyebutkan hadits Al-Bara’, “Ketika Ibrahim meninggal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sungguh akan ada yang menyusuinya di surga.’

Dalam Shahih Muslim bab “Memberi Nama dengan Nama-Nama Nabi dan Orang-Orang Shahih,” disebutkan hadits Al-Mughirah bin Syu’bah ia berkata, “Ketika sampai di Najran, para penduduknya bertanya kepadaku, ‘Kalian membaca ayat Ya Ukhta Harun (wahai saudari Harun) (QS. Maryam [19]: 28). Sedangkan Musa hidup sebelum Isa sekian tahun!’ Ketika aku bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam aku menanyakannya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya mereka menamai anak-anak mereka dengan nama-nama nabi dan orang-orang yang hidup sebelum mereka.”

Sumber: buku ISLAMIC PARENTING: hadiah cinta untuk si buah hati